3 Strategi Investasi Cryptocurrency Kalau Harga Crypto Turun Semua

0 Comments

Pada tahun 2022 ini harga crypto sedang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bagaimana tidak? Salah satu raja crypto dengan kapitalisasi pasar terbesar saja yakni Bitcoin, pada tahun 2021 sempat menyentuh harga Rp 960 jutaan. Namun apa daya, sekarang harganya menurun drastis hingga berada di kisaran Rp 300 jutaan saja.

Bisa dibilang, harga crypto boleh saja melejit tinggi sepanjang tahun kemarin. Namun tentu saja, langit itu tidak selalu biru dan cerah. Ada masanya pasar crypto mengalami penurunan, tergelincir, bahkan hingga terjerembab anjlok dan harus turun hingga ke titik terendah dalam waktu singkat.

Untuk kamu yang baru kenal dengan crypto selama 1-2 tahun terakhir mungkin bakalan kaget dengan keadaan seperti ini. Tapi buat mereka yang telah mengenal crypto lebih dari 3-4 tahun biasanya sudah terbiasa alias sudah tidak kaget lagi dengan pergerakan atau fluktuatif tajam crypto ini.

Penurunan seperti saat ini memang bukanlah pertama kali terjadi. Bahkan jika kita melihat history kebelakang, penurunan sebelumnya justru terjadi jauh lebih parah. Tapi tentu saja, setelah penurunan tersebut harga crypto juga dapat berhasil bangkit jauh lebih tinggi dari penurunan yang terjadi, bahkan hingga ribuan persen.

Kalau kamu masih inget nih hebohnya Bitcoin di tahun 2017, dimana tahun ini menjadi istimewa banget buat dunia crypto karena untuk pertama kalinya harga Bitcoin tembus hingga ratusan juta Rupiah dan mengalami kenaikan hingga 2.500%. Tapi, pada tahun 2018-2020 harga Bitcoin merosot tajam hingga turun sebanyak 80% dari harga tertingginya. Hingga pada tahun 2020 dan 2021 harga crypto bisa bangkit lagi dan bahkan Bitcoin menyentuh harga 960 Juta.

Nah mungkin sekarang kamu kepikiran nih, kira-kira harga crypto bakal turun drastis lagi ga ya selama bertahun-tahun? Terus kalau harga crypto jatuh lagi, kita harus ngapain dong? Apa cuma tahan dan sabar aja nunggu 2-3 tahun lagi sampai harganya naik lagi?

Terkait hal tersebut, kali ini Ngomu bakal membahas beberapa hal penting terkait dengan crypto dan bagaimana strateginya ketika aset crypto sedang mengalami fase bearish atau fase penurunan, khususnya untuk kamu yang baru kenal crypto 1-2 tahun terakhir di masa pandemi.

Yuk kita bahas!

Apakah Harga Crypto Bisa Turun Bertahun Tahun?

Sejarah Harga Bitcoin

Jika kita melihat secara historical, maka kemungkinan harga crypto bisa turun itu sangat memungkinkan banget. Mengapa demikian? Sederhananya, penurunan harga crypto atau bearish itu merupakan salah satu pola yang sebelumnya telah terjadi selama 1 dekade terakhir.

Selain contoh tahun 2018-2020 yang tadi udah dibahas, pasar crypto juga udah pernah ngalamin pola yang mirip berkali-kali:

📈Pada tahun 2011, harga Bitcoin sempat mengalami penurunan hingga 90% dari harga Rp 300 ribu turun menjadi Rp 30 ribu saja. Periode ini terjadi selama 2 tahun hingga Februari 2013

📉Di akhir tahun 2013, harga BItcoin sempat menyentuh harga Rp 15 juta dan di awal 2014 harganya kembali merosot tajam dan masuk ke bearish periode selama 4 tahun. Bitcoin baru bisa bangkit lagi pada awal tahun 2017

Dari hal tersebut, kita bisa melihat sendiri bahwa harga Bitcoin terus berulang kali mengalami penurunan yang semuanya tuh bisa dibilang cukup dalam dan rata-rata mencapai 80% dari harga tertingginya.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa crypto memiliki pola yang terus berulang dan bukan nggak mungkin kalau pola ini bakal terulang lagi di masa depan. Mungkin bukan beberapa bulan atau bahkan bukan tahun ini, tapi yang pasti cepat atau lambat kemungkinan besar pola yang mirip akan terjadi kembali.

Lalu bagaimana sih cara kita sebagai seorang investor crypto untuk menghadapi pola penurunan yang terus berulang tersebut? Secara umum ada 3 strategi nih yang dapat diterapkan. Kamu bisa pilih salah satu atau bahkan mengkombinasikan ketiganya sekaligus sesuai dengan proporsi budget kamu. Yuk kita bedah satu per satu!

1. Strategi Investasi Crypto: Simpan Dan Lupakan

Strategi investasi crypto yang pertama adalah menyimpan crypto di tempat yang paling aman dalam jangka waktu yang sangat panjang dan melupakannya.

Maksud dilupakan di sini adalah kita tidak memakai crypto yang sudah kita simpan tersebut untuk transaksi apapun. Strategi ini sangat cocok digunakan untuk mereka yang punya kesabaran nungguin harga crypto naik dan menikmati hasilnya di akhir nanti.

Walaupun terdengar sangat simple, namun strategi satu ini sebenarnya sangatlah powerfull atau probabilitas keuntungannya itu sangatlah tinggi. Mengapa bisa seperti itu?

💆Strategi simpan dan lupakan menghindari kamu dari beban mental dan psikologis selama market turun yang bisa jadi bikin mood kamu naik turun

📊Strategi ini cocok untuk kamu yang memiliki karakteristik sebagai seorang investor, punya tingkat kesabaran yang tinggi, serta tidak terlalu suka untuk melihat pergerakan harga yang jatuh bangun setiap harinya.

Nah mungkin sekarang kamu jadi bertanya-tanya lagi, apakah keuntungan dengan strategi ini bisa maksimal?

Yup tentu saja! Bahkan jika kamu melakukan riset untuk mengukur perbedaan persentase profit mereka yang melakukan trading setiap hari dengan mereka yang sudah investasi jangka panjang selama bertahun-tahun pada crypto yang pertumbuhannya bagus, maka kamu akan menemukan perbedaan yang tidak jauh.

Entah itu yang investasi jangka panjang lebih tinggi 10% atau 15% lebih banyak begitupun sebaliknya. Jadi strategi seperti ini memang sudah terbukti sangat powerful untuk kamu terapkan.

2. Strategi Trading Dua Arah

Strategi ini sangat cocok untuk kamu yang suka aktif untuk trading dan suka memantau pergerakan harga, bukan tipe yang pasif atau sabar nunggu market bergerak naik lagi.

Sama seperti namanya, dengan menggunakan strategi ini kamu itu tetap bisa mendapatkan keuntungan bahkan bila aset crypto mengalami penurunan. Dengan trading dua arah, makin turun harga crypto maka makin besar keuntungan kamu. Kok bisa ya?

Jadi gini, dengan trading dua arah kamu bisa beli sebuah kontrak berjangka yang bisa dicairin jadi profit pas harga asetnya lagi turun. Tapi sebaliknya nih, kamu bakalan rugi kalau misalnya harga asetnya naik.

Namun sayangnya, trading dua arah saat ini masih belum bisa kamu dapatkan di exchange lokal. Soalnya mekanisme trading dua arah atau yang lebih dikenal dengan short selling ini belum diizinkan di pasar komoditas Indonesia.

Tapi tenang saja, strategi trading dua arah ini tetap kamu bisa terapkan di salah satu exchange lokal dengan cara alternatif. Seperti apa cara alternatif tersebut?

Jadi begini, beberapa exchange lokal itu menyediakan token yang mewakili suatu kontrak berjangka yang disebut sebagai token DOWN atau dikenal juga sebagai token ETF. Beberapa token-token tersebut antara lain BTCDOWN, ETHDOWN, ADADOWN dan masih banyak lagi.

Token ini bisa jadi alternatif trading 2 arah, jadi tetap bisa profit walaupun harga crypto turun bertahun-tahun. Cara kerjanya gini, misalnya kamu beli BTC DOWN. Sesuai dengan namanya, yakni down, maka kamu bakalan nerima profit kalau harga BTC lagi down alias turun. Kok bisa gitu?

Jadi token BCA DOWN itu akan selalu ngikutin pergerakan harga Bitcoin tapi secara terbalik. Ketika harga Bitcoin lagi naik berarti harga token BTC DOWN bakal bergerak ke arah sebaliknya alias turun. Begitu juga sebaliknya.

Tapi trading token DOWN ini juga bisa jadi pisau bermata dua lho! Ketika aset crypto berbalik arah jadi naik, kamu bakalan rugi. Selain itu, pergerakan token ini bisa 2-3 kali lipat dari pergerakan aset cryptonya. Jadi kamu juga harus hati-hati ya kalau pengen trading di token ini!

3. Strategi Passive Income Cryptocurrency

Untuk kamu yang ingin menerapkan strategi pertama, kamu juga bisa nih lebih memaksimalkan keuntungan dengan membuat crypto yang kamu miliki itu bekerja dan menghasilkan passive income untuk dirimu sambil nungguin periode bearish itu berakhir.

Strategi ini cocok untuk kamu yang gak suka trading dan ga suka mantengin harga tiap hari tapi pengen bener-bener maksimalin passive income dari crypto yang kamu miliki.

Emangnya gimana sih dapat passive income dari crypto? Untuk hal tersebut, umumnya ada dua cara yang bisa kamu lakukan yakni staking dan farming.

Staking

Untuk kamu yang sudah agak lama berinvestasi di aset crypto, pasti sudah pernah mendengar tentang staking. Sebenarnya apa itu staking?

Sebelum memahami hal itu kamu harus paham dulu nih bahwa crypto itu bisa ditransaksikan karena berdiri di atas teknologi blockchain. Blockchain ini membutuhkan likuiditas agar bisa mengeksekusi transaksi yang ada dengan lancar.

Nah, staking adalah bentuk partisipasi kita sebagai investor untuk menyediakan likuiditas tersebut yakni dengan cara mengunci aset crypto yang kita miliki di dalam blockchain lalu mendapat reward sesuai dengan jumlah aset yang kita kunci. Biasanya bunga atau imbal hasil yang diberikan dari staking ini berkisar antara 5-15% per tahunnya.

Untuk imbal hasilnya itu sendiri bukanlah uang seperti Dollar atau Rupiah, tetapi imbal hasilnya akan mengikuti sesuai dengan apa yang kamu staking. Ketika kamu staking Ethereum, maka imbal hasilnya adalah Ethereum, begitu pula jika koin crypto lainnya.

Ini tentu suatu hal yang sangat bagus, mengingat selain nantinya kamu akan mendapat keuntungan dari capital gain atau kenaikan harga crypto nya, kamu juga mendapat tambahan crypto yang masuk di akunmu dari hasil staking. Jadinya keuntungan kamu bakal bener-bener maksimal.

Farming

Nah untuk farming itu sendiri sebenarnya memiliki definisi yang serupa dengan staking crypto, yakni mengunci aset crypto yang kita miliki untuk menyediakan likuiditas pada blockchain.

Namun, berbeda dengan staking yang mana imbal hasilnya itu berupa koin crypto yang sama dengan apa yang kita kunci. Pada farming, ketika kamu mengunci suatu aset crypto maka imbal hasilnya itu akan diberikan jenis aset crypto yang berbeda.

Misalnya, ketika kamu mengunci Koin BNB pada suatu platform maka kamu tidak mendapatkan koin BNB sebagai imbal hasilnya akan tetapi koin lain. Disini kamu bisa memilih koin untuk imbal hasilnya sebelum akhirnya mengunci koin milikmu.

Dengan adanya fitur farming, kamu tentu dapat menghasilkan uang tambahan tanpa harus menghadapi risiko kehilangan nilai aset seperti trading. Ini tentu menjadi kabar baik bagi para investor yang memiliki profil risiko rendah, tapi tetap dapat menghasilkan secara maksimal.


Itu dia penjelasan tentang 3 strategi yang bisa kamu terapkan ketika aset crypto sedang mengalami fase bearish atau fase penurunan. Menurut kamu selain ketika strategi di atas apakah ada strategi lain yang bisa digunakan untuk menghadapi bearish market di crypto? Coba sharing di kolom komentar ya!

Key Takeaways

📉 Harga crypto tidak selamanya mengalami penurunan. Secara history, crypto turun hanya ketika sudah menembus harga tertinggi yang pernah dibuatnya dan mencetak harga tertinggi baru.

💸 Penurunan tersebut bukan menjadi penanda bahwa kita untuk berhenti berinvestasi, justru sebaliknya ada strategi-strategi khusus yang bisa diterapkan.


💡
Suka dengan konten keuangan dari ngomongin uang? Yuk bantu kami untuk meningkatkan literasi keuangan seluruh masyarakat Indonesia dengan share artikel ini ke teman-teman kamu. Kamu juga bisa mendapatkan literasi keuangan yang jauh lebih lengkap lagi melalui instagram, tiktok, twitter dan terutama youtube ngomongin uang.

Jangan lupa untuk nantikan terus konten keuangan dari ngomongin uang, karena ngomongin uang gak ada habisnya!

Comments