Jangan Korbankan Investasi Untuk Gacha Game!

0 Comments

Sejak masuk ke abad 21, industri game terus mengalami perkembangan yang luar biasa pesat. Perkembangan tersebut dilihat oleh berbagai pihak dan dimanfaatkan sebagai lahan bisnis sehingga terciptalah game-game masa kini dengan visual menawan, baik itu di mobile maupun PC. Dimana yang dulunya game ini free to play menjadi pay to win alias mengandalkan pembelian item game untuk meningkatkan performa karakter game yang dimainkan.

Salah satu bentuk dari pay to win adalah gacha game. Apa itu gacha dan apakah ini berbahaya untuk keuangan para generasi muda?

Biar kamu gak makin penasaran, Ngomu akan membahasnya di artikel ini secara lengkap. Jadi, yuk kita simak!

Apa itu Gacha ?

Gacha atau loot box adalah fitur atau event dari suatu game dimana para player akan diberikan kesempatan oleh developer game untuk mendapatkan berbagai hal yang bisa membantu mereka untuk bermain lebih baik lagi dan meningkatkan performa game. Misalnya seperti skin, item, karakter, skill, weapon, armor dan hal-hal lainnya.

Satu hal yang membedakan game gacha dengan game non-gacha adalah gacha mengharuskan pemainnya untuk mengeluarkan uang demi mendapatkan kesempatan memiliki item yang mereka inginkan. Ini merupakan salah satu cara developer mendapatkan keuntungan dari penggunanya. Cara ini sebenarnya sah-sah aja mengingat game yang mereka buat juga bisa dimainkan secara gratis.

Namun hal ini cukup berbeda dengan game online 10 tahun silam yang mengharuskan player bersabar untuk mencari item atau membeli dengan in-game-currency (mata uang di dalam game tersebut). Dalam gacha, kalau kamu mau mendapatkan karakter atau item tertentu kamu harus membeli terlebih dahulu in-game-currency yang bisa berupa orbs, gems, bucks, atau lainnya untuk kemudian memiliki kesempatan mendapatkan item yang kamu mau. Jadi disini, yang kamu beli tuh bukan karakter atau itemnya, tapi kesempatan untuk ngedapetin karakter atau item tersebut.

Sayangnya, kamu juga tetep ga bisa dapetin itu semua dengan mudah lho! Sistem gacha ini diatur agar barangnya didapatkan secara random. Mulai dari tingkatannya yang paling rendah, sedang, dan jika beruntung kamu akan mendapatkan yang tingkatannya sangat tinggi.


Sejarah Gacha

Kalau kita tilik sejarahnya, pada dasarnya gacha atau gachapon adalah istilah yang digunakan untuk mesin mainan di Jepang. Jadi mesin ini dianggap menarik karena memiliki berbagai produk mainan secara acak dalam kapsul kecil yang kita enggak akan tahu apa item yang akan kita dapatkan. Untuk mendapatkan itu, kita harus membelinya dengan koin.

Dalam hal ini, gacha punya sistem yang mirip banget dengan lucky draw atau spinning wheel. Pada praktiknya, kita tidak memiliki kepastian untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, bahkan peluangnya pun terbilang cukup kecil.

Terinspirasi dari mesin tersebut, gacha kini menjadi salah satu teknik monetisasi yang digunakan dalam banyak game di Jepang. Teknik ini akhirnya digunakan untuk mengeluarkan item, karakter, skin, dan sebagainya secara acak dengan menggunakan uang sungguhan.

Meski sistem gacha populer pada game modern, tapi ternyata sistem ini sudah ada sejak tahun 2004. Game yang dikenal pertama kali menggunakan sistem gacha dan lootbox adalah MMORPG dari Jepang bernama MapleStory.

Dalam game tersebut, ada item yang bernama Gachapon Ticket dimana player bisa membeli tiket tersebut seharga 100 Yen dan akan mendapatkan item secara acak. Dari hal tersebut, banyak developer game Jepang yang mulai mengadopsi mekanisme baru tersebut dalam game mereka.

Puncak kejayaan dari gacha sendiri terjadi di tahun 2016 ketika Blizzard merilis game mereka bernama Overwatch. Game ini sangat populer di Amerika Utara dan tercatat berhasil meraup keuntungan sebesar 1 Miliar USD hanya dari penjualan gacha. Fenomena gacha di game Overwatch ini mengakibatkan game dengan sistem gacha dan lootbox semakin berkembang luas.

Kini, sistem gacha seakan sudah menjadi standar tersendiri bagi game multiplayer. Kalau kamu lihat, pasti hampir semua game multiplayer baik di PC maupun mobile phone mengandung unsur gacha di dalamnya. Salah satu contoh game gacha yang terbaru dan terpopuler saat ini ialah Fire Emblem Heroes dan Genshin Impact.

Apakah Gacha Berbahaya Untuk Ekonomi Remaja?

Walaupun sangat populer, mekanisme gacha ini terus mengalami kritikan dari berbagai pihak.  Hal tersebut dikarenakan mekanisme daripada gacha sangatlah mirip dengan perjudian dan membuat orang-orang ketagihan, khususnya bagi para remaja.

Namun mungkin dari kamu ada yang berkata ‘tapi kan gacha tidak selalu berbayar?’

Itu memang benar. Namun tetap saja, jika seseorang sudah ketagihan dan kecanduan pasti ujung-ujungnya akan melakukan gacha yang berbayar. Dan dalam jangka panjang, keuangannya akan jadi tidak karuan.

Sistem loot box dan gacha ini disinyalir memiliki algoritma tertentu agar terus meningkatkan potensi keluarnya hadiah besar seiring dengan seringnya player membeli gacha. Nah algoritma ini yang dinilai bisa menyebabkan kecanduan bagi penggunanya.

Dalam teori ekonomi hal ini dikenal sebagai ‘Sunk Cost Fallacy’ dimana player akan terus menerus membeli karena udah terlanjur ngeluarin usaha, waktu dan uang tapi belum juga ngedapetin item yang diinginkan.

Data di tahun 2021 tercatat, pengeluaran gamer di seluruh dunia untuk membuka gacha dan loot box mencapai $15 Miliar atau setara dengan Rp214 Triliun. Dan kalau kenaikan industri game online terus bertumbuh, diperkirakan pada tahun 2025 sistem gacha ini bisa menghasilkan hingga Rp290 Triliun di seluruh dunia. Wah gede banget ya?

Dalam gacha sendiri, semakin langka suatu item atau karakter maka akan semakin rendah juga kesempatan untuk mendapatkannya. Jadi jangan heran kalau ada player yang menghabiskan hingga puluhan juta demi mendapatkan karakter yang mereka inginkan.

Penggunaan mata uang dalam game ini juga bertujuan agar para player tidak menyadari berapa banyak uang yang mereka habiskan demi mengincar item favorit mereka.

Trik penggunaan mata uang pengganti ini juga diterapkan dalam dunia kasino. Jadi dalam hal tersebut kita tidak bertaruh dengan uang asli, namun dengan chip. Alasannya pun sama dengan gacha, agar para pemain tidak menyadari banyaknya uang yang sudah mereka habiskan.

Hal ini juga didukung oleh riset yang dilakukan oleh Forbes yang menyebutkan bahwa konsumen seringkali lebih banyak menghabiskan uang ketika menggunakan kartu debit dibanding menggunakan uang cash.

Tidak sampai di situ, dilansir dari situs Royal Society For Public Health mereka mengatakan bahwa setidaknya 1 dari 10 pemain muda berusaha untuk berhutang agar bisa melakukan gacha. Bahkan pada tahun 2020 silam, Gambling Health Aliance (GHA) memperingatkan para orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka dari kecanduan video game dengan mekanisme gacha tersebut.

Hal ini terkait dengan penelitian GHA yang menemukan bahwa :

🥷 Satu dari enam para pemain muda mengambil uang dari orang tua mereka bahkan tanpa izin terlebih dahulu demi melakukan gacha

💳 Satu dari sepuluh pemain muda memaksakan untuk memakai kartu kredit/debit dari orang tua mereka agar bisa melakukan gacha di game favorit mereka

💲Satu dari sepuluh pemain telah melakukan peminjaman uang yang bahkan mereka sendiri tidak mampu bayar dan justru dipakai untuk gacha

🛍️ Timbulnya kebiasaan para pemuda untuk menggadaikan atau menjual barang-barang berharga mereka demi mendapatkan uang dan bisa melakukan top up untuk gacha

💸 GHA juga menemukan setidaknya rata-rata ada $35 atau Rp 519.000 dihabiskan pemain untuk melakukan pembelian item atau paket di dalam game. Sedangkan lebih dari $100 atau Rp 1.480.000 dihabiskan pemain untuk gacha game favorit mereka.

Dari data tersebut, terlihat kalau hal ini sangat menghabiskan uang bukan?

Apalagi ada banyak kasus dimana apa yang mereka telah beli dalam gacha game tersebut terdepresiasi sangat jauh. Jadi ketika mereka mencoba untuk menjual akun yang telah dimainkan selama ini yang sudah menghabiskan jutaan bahkan hingga belasan juta, ternyata ketika mereka jual harganya jadi sangat jauh dari apa yang telah mereka keluarkan selama ini.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya hal ini sama seperti ketika kita menjual barang di dunia nyata. Ketika demand atau permintaannya sedikit akan tetapi supplynya banyak maka harganya akan cenderung murah dan jatuh.

Sama halnya pula ketika pemain lama ingin ngejual akun atau item yang dimilikinya ke orang lain, biasanya demandnya itu sudah sangat sedikit yang membuat harganya jatuh dari harga awal yang telah dikeluarkan.

Jadi dari fakta-fakta diatas, gacha memang bisa berpotensi memberikan dampak buruk terhadap kondisi ekonomi para remaja apalagi kalau sampai kecanduan.

Bagaimana Cara Berhenti Kecanduan Gacha?

@ngomonginuang Tips aman main Gatcha tanpa harus ngorbanin investasi. #SerunyaBelajar #skingame #finance101 #kelasbisnis ♬ Pumpkins - Chris Alan Lee

Sesuatu hal yang seru dan membuat penasaran itu memang seringkali membuat diri kita kecanduan. Sayangnya nih, kebanyakan hal yang membuat candu itu kadangkala berdampak buruk terhadap kehidupan kita. Dan gacha game adalah salah satu contohnya.

Lantas bagaimanakah cara kita agar bisa terlepas dari kecanduan gacha di dalam game? Nah Ngomu punya beberapa tips yang bisa membantu kamu nih, yuk kita simak:

🎰 Sadari bahwa pengeluaran untuk gacha itu berbeda dengan pengeluaran untuk hobby. Hal itu dikarenakan sifat gacha yang 'spekulatif' dan tidak pasti.

📱Batasi penggunaan smartphone atau PC tempat kamu bermain gacha terutama di saat istirahat

👀 Abaikan hasil gacha dari berbagai pihak, baik itu orang terdekat maupun streamer kesukaan kamu di sosial media. Ingat bahwa kamu bisa jadi tidak seberuntung mereka, bahkan dari segi kondisi keuangan pun mungkin berbeda karena bisa jadi mereka sudah mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk gacha tersebut.

📓Lakukan pencatatan keuangan yang baik dan teliti. Ngomu tidak melarang kamu untuk bersenang-senang, namun ingat bahwa semuanya harus terukur ya!

⚠️Menurut Gambleaware, setidaknya 40% remaja yang bermain game sudah pernah melakukan gacha. Jadi, jika kamu adalah orang tua maka awasilah anak-anakmu dan berikan edukasi terkait gacha game tersebut.

Itu dia penjelasan dari Ngomu terkait dengan gacha game. Semoga penjelasan dan tips-tips tersebut bisa membantu terutama buat kamu yang udah terlanjur kecanduan gacha.

Kalau kamu ada pendapat atau tips lain, coba share di kolom komentar ya!

Key Takeaways

🎮 Gacha atau lootbox adalah fitur ataupun event di dalam game yang memungkinkan seorang player mendapatkan berbagai hal yang diinginkannya seperti item dan karakter untuk menambah keseruan di dalam game.

🎲 Namun, karena sifatnya yang spekulatif dan sangat mirip dengan judi, gacha menimbulkan sifat adiktif atau kecanduan bagi para pelakunya. Dan tentu saja sifat adiktif tersebut membawa dampak buruk khususnya terhadap kondisi finansial pelaku.

📍 Layaknya berhenti dari judi, berhenti dari gacha itu sama sulitnya jika sudah kecanduan. Namun bukan berarti hal itu tidak mungkin untuk dilakukan.


💡
Suka dengan konten keuangan dari ngomongin uang? Yuk bantu kami untuk meningkatkan literasi keuangan seluruh masyarakat Indonesia dengan share artikel ini ke teman-teman kamu. Kamu juga bisa mendapatkan literasi keuangan yang jauh lebih lengkap lagi melalui instagram, tiktok, twitter dan terutama youtube ngomongin uang.

Jangan lupa untuk nantikan terus konten keuangan dari ngomongin uang, karena ngomongin uang gak ada habisnya!

Referensi

Kumparan. 2022, 21 Februari. Apa itu Gacha? Ini Sejarah dan Penerapannya dalam Sistem Game Online. https://kumparan.com/berita-hari-ini/apa-itu-gacha-ini-sejarah-dan-penerapannya-dalam-sistem-game-online-1xY5zGDjvEZ

Inverse. 2020, 18 October. How Genshin Impact Despised Video Game Genre Irresistible “Gacha'' https://www.inverse.com/gaming/genshin-impact-gacha-game-meaning-definition

Forbes. 2018, 16 July. Do People Really Spend More With Credit Cards? https://www.forbes.com/sites/billhardekopf/2018/07/16/do-people-really-spend-more-with-credit-cards/?sh=2ab441da1c19

NHS Addictions Provider Alliance. 2020. Gambling Health Alliance calls for paid-for loot boxes to be classed as gambling. https://www.nhsapa.org/post/gambling-health-alliance-campaign

Comments