Ciri-Ciri Saham yang Kinerja Perusahaannya Bagus

0 Comments

Mencari saham yang memiliki kinerja bagus merupakan sebuah PR tersendiri bagi para investor. Apalagi untuk investor pemula yang baru memulai perjalanannya dalam belajar berinvestasi di dunia saham, hal tersebut tentu menjadi suatu kesulitan yang cukup berarti untuk mereka.

Kalau kamu adalah investor pemula, kamu perlu banget nih membekali diri kamu dengan ilmu dasar saham agar tidak terjerumus dalam kegiatan berinvestasi. Selain itu, diperlukan kecermatan dalam memilih portofolio saham yang berpotensi memberikan cuan untuk kamu di masa depan.

Tapi caranya gimana tuh? Tenang aja. Kali ini Ngomu bakal kupas tuntas ciri-ciri saham yang kinerja perusahaannya bagus, dimana artikel ini tuh cocok banget untuk kamu yang baru aja terjun ke dunia saham ataupun buat kamu yang masih bingung dan belum ngerti gimana sih caranya milih saham yang bagus.

Jadi yuk kita bahas!

Pendekatan Data Saham

Sebelum kita melangkah lebih jauh nih, kamu harus tau dulu apa aja sih pendekatan data dalam saham. Secara umum, untuk mengenal kinerja suatu perusahaan terdapat 2 jenis pendekatan data yang bisa kamu gunakan untuk mengetahui kinerja suatu perusahaan itu bagus atau tidak:

📃Historical Data

Historical data merupakan data yang diperoleh dari kondisi yang telah terjadi di masa lalu. Misalnya seperti laporan keuangan perusahaan, pencapaian perusahaan, kemampuan bayar hutang perusahaan, kualitas manajemen perusahaan dan lain sebagainya.

Dengan melihat historical data, kita bisa tahu nih perusahaan yang udah sekian tahun lamanya konsisten berada di kondisi yang bagus. Dan dari data ini, kita berharap kalau kedepannya perusahaan tersebut akan mencapai pencapaian yang sama atau bahkan lebih baik lagi.

📈Forecast Data

Sementara itu, forecast data adalah data prediksi terhadap kondisi keuangan di masa yang akan datang berdasarkan informasi yang ada saat ini. Contohnya terkait dengan kebijakan moneter untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan dimana hal ini akan mempengaruhi beberapa industri khususnya industri yang banyak ngelibatin bunga kredit.

Dari situ kita bisa memprediksi industri atau perusahaan apa aja yang bakal kena dampaknya dan seberapa besar dampaknya terhadap kondisi perusahaan tersebut di masa depan.

Sederhananya nih, historical data itu biasanya kita gunakan untuk mencari perusahaan yang secara historis terbukti memiliki kinerja yang baik. Sedangkan forecast data, kita bisa melihat kadang ada kinerja perusahaan tertentu yang di masa lalu biasa aja atau kurang baik tapi justru punya prospek yang bagus di masa depan.

Namun tak dapat dipungkiri, kadangkala untuk para investor pemula mungkin seringkali merasa kesulitan dalam menganalisis menggunakan historical maupun forecast data. Apalagi masih banyak data-data lainnya yang digunakan untuk menganalisa kinerja suatu perusahaan.

Karena itu pada artikel ini, Ngomu akan membahas cara menganalisis saham dengan data-data yang mudah diakses dan mudah dipahami, khususnya untuk kamu yang baru aja terjun di dunia saham.

Untuk tau saham tertentu itu bagus atau nggak, ada tiga indikator yang bisa kamu gunakan yaitu Net Profit Margin (NPM), Return On Equity (ROE) dan Debt to Equity Ratio (DER) dimana ketiga indikator ini bisa dibilang adalah analisis yang menggunakan historical data.

Biar kamu ga bingung, kita coba bedah satu per satu ya!

Net Profit Margin (NPM)

Indikator pertama adalah Net Profit Margin atau biasa yang disingkat sebagai NPM. NPM adalah indikator yang membandingkan pendapatan perusahaan dengan kemampuan perusahaan tersebut dalam mendapatkan keuntungan.

Agar kamu bisa memahami NPM, maka kamu juga perlu mengetahui apa sih yang dimaksud dengan pendapatan perusahaan. Secara singkat, pendapatan perusahaan adalah sejumlah uang yang didapatkan oleh perusahaan setelah melakukan kegiatan usahanya.

Kemudian pertanyaannya sekarang adalah apakah semakin besar pendapatan suatu perusahaan berarti semakin bagus pula perusahaannya?

Jawabannya adalah belum tentu. Karena meskipun pendapatan perusahan besar, belum tentu perusahaan tersebut bisa mendapatkan keuntungan. Atau bahkan bisa jadi pendapatannya besar tapi malah merugi karena pengeluarannya lebih besar

Oleh karena itu, untuk melihat perusahaan itu bagus atau tidak kamu harus membandingkan pendapatan perusahaan tersebut, misalnya dengan laba bersih atau bisa juga dengan ekuitas perusahaan.

Terus apa sih hubungannya dengan NPM? Jadi sederhananya, NPM ini adalah tingkat keuntungan suatu perusahaan dari penjualan atau pendapatan yang diperoleh. Sebagai sebuah rasio profitabilitas, NPM ini akan dihitung dengan membandingkan antara laba bersih dan pendapatan. Dengan kata lain, NPM ini akan meneropong seberapa besar keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan dari pendapatan.

Artinya NPM ini bukan sekedar angka saja lho. Di dalam angka tersebut tercermin gimana sih perusahaan menghasilkan laba setelah mengumpulkan pendapatan dan mengelola biaya. Biasanya NPM ini dinyatakan dalam bentuk persentase.

Rumus NPM itu sendiri adalah sebagai berikut:

💡
Contoh:
Misalnya ada perusahaan A yang pendapatannya itu 100 Miliar, dan laba bersihnya itu 10 Miliar, berarti NPM nya 10%. Dari hasil tersebut, kita bisa tahu ini bahwa perusahaan A akan mendapatkan keuntungan sebesar 10% dari setiap uang yang dihasilkan.

Mungkin kamu melihat bahwa menghitung NPM terlihat sangat simple, tapi dengan menggunakan indikator yang satu ini kamu bisa mendapatkan gambaran seefisien apa sebuah perusahaan, bagaimana keputusan-keputusan bisnis yang diambil perusahaan itu bisa mendatangkan uang, dan apakah perusahaan tersebut mampu mengendalikan pengeluarannya dengan baik.

Terus, berapa sih angka NPM yang bagus?

Intinya, semakin besar NPM sebuah perusahaan, maka semakin efisien perusahaannya dalam mendatangkan uang dan menekan pengeluaran. Untuk melihatnya, data NPM ini bisa kamu temukan dengan mudah di berbagai platform sekuritas

Di samping itu, indikator NPM juga memiliki keterbatasan lho. Angka NPM yang terlihat besar bisa saja menipu. Hal itu bisa terjadi  ketika suatu perusahaan menghasilkan laba bersih yang besar namun laba tersebut diperoleh dengan cara penjualan aset yang hanya terjadi sesekali, bukan dari kinerja operasional rutin.

Oleh karena itu, investor saham perlu berhati-hati nih. Kamu bisa meminimalisir hal tersebut dengan cara memeriksa ulang di laporan keuangan tentang bagaimana perusahaan tersebut menghasilkan laba bersih.

Return On Equity (ROE)

ROE adalah indikator yang membandingkan laba bersih perusahaan dengan nilai kekayaan bersih perusahaan tersebut. Nilai kekayaan bersih atau yang biasa disebut dengan ekuitas ini bisa didapatkan dengan menghitung total aset sebuah perusahaan lalu dikurangi dengan total kewajiban/liabilitas perusahaan.

Sederhananya nih, ROE adalah indikator untuk melihat seberapa efektif sih perusahaan dalam mengelola sumber dayanya.  

ROE bisa didapatkan dengan rumus sebagai berikut:

💡
Contoh:
Misalnya perusahaan A yang tadi labanya 10 Miliar, memiliki ekuitas sebesar 100 Miliar. Jadi ROE perusahaan A itu adalah 10%. Artinya, perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan sebesar 10% bila dibandingkan dengan ekuitas atau modal bersih atau nilai kekayaan perusahaan tersebut.

Persentase ROE ini juga dapat diartikan bahwa jika ROE sebuah perusahaan itu 10%, bisa dibilang bahwa perusahaan tersebut bisa mengolah setiap Rupiah dari modal bersihnya jadi 1,1 Rupiah. Oleh karena itu, dengan ROE ini kita bisa menilai bagaimana perusahaan dapat mengelola resource-nya dengan optimal. Semakin besar ROE sebuah perusahaan, maka semakin efektif pengelolaan resource dari perusahaan tersebut.

Berapa angka ROE yang baik untuk perusahaan?

Sebenarnya tidak ada batasan umum yang bisa menjadi patokan, tapi salah satu cara melihat kinerja perusahaannya bagus itu dengan cara membandingkan ROE perusahaan-perusahaan lain pada industri yang sama.

Kamu juga dapat menentukan ROE suatu perusahaan itu bagus atau tidak dengan cara membandingkan ROE perusahaan tersebut dengan imbal hasil investasi pada instrumen yang lain, misalnya dibandingkan dengan suku bunga acuan ataupun imbal hasil obligasi 10 tahun indonesia.

Sebagai contoh, misalnya pada awal tahun 2022 ini suku bunga acuan berada pada angka 5%. Nah, kalau ROE sebuah perusahaan itu di bawah 5%, maka daripada investasi di saham tersebut  lebih baik uang kamu disimpan dalam deposito saja. Karena return yang diberikan juga lebih baik.

Tapi balik lagi ya, kamu bebas lho untuk menentukan mau berinvestasi dimana. Yang pasti, pilihlah instrumen investasi yang terbaik sesuai risk profile kamu ya!

Debt to Equity Ratio (DER)

DER merupakan indikator yang membandingkan nilai hutang perusahaan dengan nilai kekayaan bersih perusahaan tersebut. Ini adalah salah satu ukuran yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Indikator yang satu ini sangat penting karena bisa digunakan untuk mengukur posisi keuangan suatu perusahaan.

Rumus DER sendiri dapat dituliskan sebagai berikut:

💡
Contoh:
Perusahaan A yang tadi mempunyai utang sebesar 150 Miliar, sementara ekuitas perusahaan tersebut adalah 100 Miliar. Maka akan didapatkan DER sebesar 150%. Artinya, nilai hutang perusahaan itu sebesar 150% atau 1,5 kali jika dibandingkan sama ekuitas atau nilai kekayaan bersih perusahaan tersebut.

Dengan melihat DER suatu perusahaan, kamu bisa menilai bahwa semakin besar DER suatu perusahaan, semakin besar pula rasio hutang perusahaan tersebut dibandingkan dengan ekuitas atau modal bersih perusahaan tersebut.

Berapa angka DER yang wajar untuk suatu perusahaan?

Untuk angka DER ini sendiri sebenarnya kurang tepat untuk digeneralisir seperti itu. Hal ini karena setiap sektor di industri bisnis itu memiliki kebutuhan hutang yang berbeda beda.

Cara terbaik untuk menilai DER adalah dengan membandingkan DER suatu perusahaan dengan DER perusahaan lain di industri yang sama juga. Contohnya, kamu membandingkan rasio utang PT Pakuwon Jati yang merupakan perusahaan properti, kamu bandingkan dengan perusahaan properti yang lain seperti PT Alam Sutera Realty, PT Ciputra Development dan lain sebagainya.

Di sisi lain, perusahaan dengan rasio utang yang besar belum tentu buruk lho! Hal itu bisa menjadi baik dan wajar kalau pengelolaan utangnya baik, digunakan untuk hal produktif dan perusahaan juga punya kemampuan bayar utang yang baik juga.

Itu dia pembahasan dari Ngomu mengenai ciri ciri saham yang kinerja perusahaannya bagus. Tapi perlu kamu ingat nih, kalau NPM, ROE dan DER itu hanya tiga dari sekian banyak data yang bisa kita pakai untuk menilai kinerja sebuah perusahaan itu bagus atau tidak. Jadi terus belajar dan pantengin channel dan website Ngomongin Uang ya untuk dapetin informasi menarik lainnya!

Kalau ada hal yang mau ditanyain atau pengen kamu diskusiin, coba share di kolom komentar ya!


Key Takeaways

  • 🔍 Umumnya ada dua pendekatan dalam menganalisa perusahaan yakni historical data dan forecast data.
  • 💥 Namun agak sulit menggunakan dua pendekatan tersebut khususnya bagi para pemula di dunia investasi.
  • 📊 Setidaknya ada 3 data yang bisa digunakan untuk mengetahui perusahaan secara mudah, data-data tersebut yakni Net Profit Margin, Return on Equity dan Debt to Equity Ratio.

💡
Suka dengan konten keuangan dari ngomongin uang? Yuk bantu kami untuk meningkatkan literasi keuangan seluruh masyarakat Indonesia dengan share artikel ini ke teman-teman kamu. Kamu juga bisa mendapatkan literasi keuangan yang jauh lebih lengkap lagi melalui instagram, tiktok, twitter dan terutama youtube ngomongin uang.

Jangan lupa untuk nantikan terus konten keuangan dari ngomongin uang, karena ngomongin uang gak ada habisnya!

Comments