Apa Itu Pencucian Uang dan Bagaimana Hal Seperti Itu Dapat Terjadi?

0 Comments

Jika kamu sering menonton berita dan melihat kasus seperti korupsi atau tindak pidana lain yang skalanya cukup besar terungkap, biasanya selalu muncul istilah Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Oleh karena itu kata pencucian uang ini tentu sangat akrab terdengar di telinga masyarakat Indonesia, apalagi dengan melihat tingginya kasus-kasus tersebut yang terjadi di tanah air.

Namun sebenarnya, apa itu pencucian uang dan apakah kamu sudah benar-benar paham akan makna dari istilah tersebut?

Nah, kali ini yuk kita bahas penjelasan terkait pencucian uang, mulai dari definisi, asal-usulnya, cara kerja, hingga contoh kasusnya!

Apa itu Pencucian Uang?

Kalau dijelasin secara sederhana, pencucian uang adalah proses yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan dengan tujuan untuk menyembunyikan hasil dari sumber pendapatan mereka secara ilegal. Pertanyaannya, kenapa harus disembunyiin gitu ya?

Jadi gini, secara sadar atau tidak ternyata profil keuangan kita itu diawasi oleh banyak pihak lho! Misalnya seperti bank yang memiliki akses pada aliran keuangan kita, pemerintah untuk kepentingan perpajakan, audit perusahaan, dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu jika sampai ada suatu individu atau lembaga yang secara mendadak memiliki banyak uang tanpa diiringi sumber pendapatan yang wajar maka hal tersebut akan membuat banyak pihak merasa curiga. Pertanyaan yang sering muncul adalah, darimanakah uang tersebut berasal?

Maka dari itu, praktik pencucian uang ini dilakukan demi menyembunyikan uang yang didapat secara tidak wajar tersebut dan dijadikan seolah-olah kekayaannya itu telah didapat dari proses yang legal, wajar dan bersih meskipun kenyataannya tidaklah demikian.

Bisa dikatakan, pencucian uang ini memiliki tujuan untuk memperkaya diri sendiri dan berupaya mengaburkan atau menutup-nutupi asal-usul uang yang didapat sebelumnya dengan cara ilegal seperti pencurian, korupsi, terorisme, narkoba, perdagangan manusia, dan sebagainya.

Asal Mula Istilah Pencucian Uang

Istilah pencucian uang alias money laundering mulai muncul pertama kalinya pada tahun 1920 di Amerika Serikat. Pada saat itu, ada banyak banget mafia di Amerika yang merajalela dan melakukan berbagai tindak kejahatan.

Mafia-mafia Amerika ini memperoleh banyak uang dari hasil kejahatan mereka seperti pencurian, perampokan, prostitusi, perjudian, perdagangan narkotika, dan sebagainya. Untuk menutupi uang yang banyak itu, para mafia ini kemudian membeli perusahaan yang resmi dan sah secara hukum sebagai salah satu strateginya agar seolah-olah uang yang mereka dapatkan itu berasal dari sumber yang sah.

Nah, salah satu investasi terbesar mereka adalah perusahaan laundry atau pencucian pakaian bernama Laundromats yang pada saat itu sangat terkenal di Amerika. Usaha laundry ini kemudian semakin berkembang pesat dan maju dengan modal yang ditanamkan dari hasil kejahatan para mafia ini.

Akhirnya karena peristiwa tersebut, istilah pencucian uang atau money laundering mulai digunakan hingga sampai saat ini.

Cara Kerja Pencucian Uang

Pada umumnya, pencucian uang itu memiliki 3 bentuk:

1. Placement (Penampungan)

Placement merupakan perpindahan awal dari sejumlah uang yang diperoleh dari kegiatan para pelaku kriminal ke dalam beberapa jaringan atau suatu lembaga keuangan yang sah. Uang dari sumber ilegal itu sangat tidak mungkin mereka simpan di rekening pribadi milik si pelaku, sehingga mereka membutuhkan media lain untuk menjadi penampungan awal agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Adapun cara umum yang sering dilakukan oleh mereka di fase ini adalah memecah uang tersebut ke banyak rekening dalam jumlah yang relatif kecil (smurfing). Selain itu, ada juga yang membelikan aset yang sulit dinilai seperti karya seni atau barang antik, bahkan saat ini ada juga yang menjadikan cryptocurrency sebagai media awal pencucian uang.

2. Layering (Menyamarkan Jejak)

Layering merupakan kegiatan menyamarkan jejak uang yang didapatkan dari sumber ilegal sebagai sumber aslinya. Ini merupakan langkah paling rumit dan beresiko dalam skema pencucian uang karena bersifat sangat kompleks, berlapis, dan anonim agar sulit untuk melacak asal-usul dana tersebut.

Contoh dari layering sendiri adalah transaksi dengan memindahkan dana dari satu rekening ke rekening lain bahkan hingga ke bank luar negeri, menginvestasikannya ke berbagai instrumen, hingga membuat perusahaan abal-abal di luar negeri atau cara lainnya. Dalam hal ini segala cara bisa dilakukan, yang terpenting uang tersebut tidak akan terlacak dari sumber ilegal.

3. Integration (Melebur Dengan Sumber Ilegal)

Selanjutnya adalah tahap integrasi. Tahap integrasi merupakan tahapan dimana pelaku memasukan dana yang sudah kabur asal-usulnya ke dalam harta yang terlihat sah untuk dinikmati secara langsung. Ini merupakan bentuk dimana ketika uang ilegal tersebut dipakai secara bebas dan legal, serta tidak memerlukan tindakan untuk menyembunyikan uang tersebut lebih jauh.

Nah, kalau kamu pernah lihat sebuah usaha atau restoran yang mana keadaannya selalu sepi namun tidak pernah tutup, bisa jadi itu adalah usaha fiktif yang seolah-olah menghasilkan profit dan berkedok menjadi uang yang berasal dari usaha yang legal.

Contoh Kasus Pencucian Uang di Indonesia

Kalau kamu ingat nih di tahun 2020 silam ada kasus pencucian uang yang cukup besar terjadi di Indonesia, yakni pencucian uang yang dilakukan oleh petinggi perusahaan asuransi BUMN PT Jiwasraya, Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat.

Keduanya beserta beberapa petinggi Jiwasraya lainnya, dinyatakan bersalah karena melakukan korupsi dan memperkaya diri sehingga menyebabkan kerugian negara sebesar 16 Triliun Rupiah. Selain itu, mereka juga terbukti melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di kasus pengelolaan investasi saham Jiwasraya sebesar 50 Miliar Rupiah.

Direktur Utama Jiwasraya ini diduga mengaburkan asal usul uang seolah-olah berasal dari aktivitas legal. Padahal, uang senilai 50 Miliar Rupiah yang disamarkan tersebut merupakan hasil kejahatan menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Bank Indonesia maupun berasal dari tindak pidana lainnya.

Jaksa mendakwa bahwa tersangka menyamarkan keuntungan yang didapat dengan menempatkan uangnya di sejumlah rekening atas nama orang lain. Di transaksi rekening pria tersebut, tercatat bahwa tersangka memberikan sejumlah uang sebesar Rp 4,87 Miliar untuk membayar kasino di Resort World Sentosa.

Dalam hal ini KPK menduga transaksi kasino ini adalah modus baru pencucian uang. Selain itu, Jaksa juga menyebutkan bahwa tersangka membelanjakan uang yang diduga hasil korupsi untuk membeli mobil, rumah, dan tanah. Tujuannya tentu saja untuk menyamarkan asal usul uang.

Tak sampai disitu saja. Modus lainnya yang dilakukan tersangka untuk mengaburkan uang ilegal tersebut adalah dengan mendirikan perusahaan baru yakni PT Hanson Internasional dan Koperasi Hanson Mitra Mandiri sebagai sarana pencucian uang yang dananya mereka dapatkan dari tindak pidana menghimpun dana masyarakat secara ilegal.

Dari kasus tersebut, kita bisa lihat nih kalau para tersangka pencucian uang akan berusaha menutupi uang jutaan hingga milyaran Rupiah dari hasil aktivitas ilegal tersebut dengan ‘mencuci’ uang mereka seperti membuka usaha, membeli barang atau aset, dan sebagainya agar uang tersebut tidak terlihat mencurigakan.

Setelah kita bahas tentang definisi dan cara kerja pencucian uang alias money laundering, mungkin sebagian kamu pernah denger juga nih yang namanya Reverse Money Laundering. Bedanya apa ya sama pencucian uang?

💡
Reverse money laundering merupakan kebalikan daripada pencucian uang. Ini merupakan upaya mendanai aktivitas ilegal dengan menggunakan sumber dana yang legal. Tidak seperti pencucian uang yang ingin membuat uang yang awal nya 'kotor' jadi tampak 'bersih', reverse laundering membuat uang yang awalnya 'bersih' menjadi 'kotor'.

Contoh aktivitas reverse money laundering ini seperti sumbangan berkedok amal/sosial padahal digunakan untuk kegiatan terorisme, donasi yayasan yang dibuat oleh mafia, dan dana CSR perusahaan.

Dampak Pencucian Uang Pada Perekenomian

Dampak dari aktivitas pencucian uang ini bisa sangat luas dan menjadi sangat parah. Dan bukan hanya berdampak secara lokal saja, tetapi juga bisa berdampak secara global baik itu pada sektor bisnis, ekonomi dan masyarakat. Apalagi jika mengingat tren dari pencucian uang ini selalu berkembang dan semakin kompleks seiring perkembangan zaman.

Salah satu penelitian terbaru mengenai pencucian uang adalah riset Tipologi tahun 2021 dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Riset tersebut menyebutkan bahwa dampak negatif pencucian uang terhadap perekonomian sangatlah banyak, diantaranya seperti:

1.Capital Outflow

Pada umumnya, para pelaku yang melakukan pencucian uang akan mentransfer uang ilegal tersebut ke luar negeri agar tidak dapat dilacak dan ditelusuri lebih lanjut. Hal ini bisa menyebabkan capital outflow pada Indonesia.

Capital outflow merupakan arus modal yang keluar dari suatu negara. Terjadinya capital outflow merupakan salah satu permasalahan yang seringkali dihadapi oleh berbagai negara, salah satunya Indonesia. Ketika capital outflow ini terus menerus terjadi, hal ini bisa berakibat pada kurangnya sumber daya di dalam negeri dan mempengaruhi pembentukan modal domestik, memperlambat laju ekonomi, dan dapat meningkatkan utang luar negeri pemerintah.

Ketika dana yang seharusnya bisa digunakan untuk mengembangkan ekonomi negara justru ditransfer ke luar negeri untuk mengaburkan asal-usul uang hasil kriminal tersebut, hal ini tentu saja merugikan negara dan juga masyarakat. Bahkan para pelaku ini biasanya tidak akan menaruh uang dalam jumlah banyak di negaranya sendiri agar tidak dicurigai dan dilacak.

Oleh karena itu, sangat jarang para pelaku pencucian uang yang hanya mendiamkan uang hasil tindak kriminal tersebut di satu negara saja. Mereka akan berusaha untuk menyebarkannya ke negara-negara yang hukum pencucian uangnya masih cukup lemah. Dengan demikian negara tidak dapat merampas atau mengembalikan uangnya kepada mereka yang lebih berhak atas uang tersebut.

2. Mengacaukan Data Ekonomi

Transaksi bisnis yang dilakukan pelaku pencucian uang pada proses Integration mayoritas adalah usaha fiktif. Hal ini seringkali mengacaukan data ekonomi karena tidak menggambarkan produktivitas positif yang menciptakan nilai nyata dalam perekonomian negara.

3. Efek Pada Tingkat Pertumbuhan

Salah satu sektor yang merasakan dampak signifikan ketika keuangan suatu negara tidak stabil adalah sektor riil. Bisa dikatakan, investor asing mengambil peran penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Namun, bukan hal yang mudah untuk menarik investor asing jika negara tersebut merupakan negara dengan kasus pencucian uang yang tinggi. Hal ini dikarenakan jika pencucian uang sering terjadi di suatu negara, maka harga-harga akan menjadi tidak stabil dan akan mempengaruhi kredibilitas negara tersebut secara eksternal. Sebagai investor yang berpikir secara rasional, tentu tidak akan ada yang mau untuk menaruh uang miliknya di negara seperti itu.

Oleh karena itu, sangat penting untuk sebuah negara yang ekonominya dalam masa pertumbuhan untuk memberantas pencucian uang demi menarik kepercayaan investor asing.

4. Pengaruh Terhadap Penerimaan Pajak

Pajak mengambil peran yang sangat besar untuk pendapatan sebuah negara. Jika sampai ini bermasalah, maka hal itu akan berdampak pada penerimaan negara dan berpotensi terjadinya defisit anggaran yang cukup besar.

Sedangkan dari apa yang kita tahu, dana dari hasil pencucian uang merupakan pendapatan yang tidak dikenakan pajak oleh negara sehingga hal tersebut akan berdampak pada penurunan penerimaan pajak.

Dari hal-hal tersebut, bisa kita lihat bahwa dampak pencucian uang terhadap perekonomian berimbas sangat negatif bagi negara dan masyarakatnya. Oleh karena itu, baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat harus bersinergi untuk memberantas tindak pencucian uang bersama-sama. Lantas bagaimana caranya?

Cara Mencegah Praktik Pencucian Uang

Berbagai negara berkembang mungkin akan merasa sangat kesulitan untuk memutus mata rantai pencucian uang yang terjadi di negaranya. Hal ini biasanya terjadi karena mereka masih memiliki sedikit peraturan tentang Anti Pencucian Uang (APU). Melihat hal itu, pelaku pencucian uang biasanya akan menargetkan negara-negara dengan sistem keamanan yang masih lemah.

Akar masalah dari kelemahan negara berkembang dalam melawan pencucian uang adalah karena kurangnya dana yang dibutuhkan untuk memberantasnya, sehingga negara-negara berkembang membutuhkan bantuan internasional dan regional agar sistem ekonomi mereka dapat diamankan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana negara kita memerangi praktik pencucian uang?

Sejak awal tahun 2000-an hingga sekarang sudah ada berbagai peraturan perundang-undangan terkait Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) dari pemerintah Indonesia. Bahkan di kutip dari Bank Indonesia, BI mendukung pemerintah dalam pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme melalui peran BI sebagai otoritas sistem pembayaran.

Hal ini diwujudkan dalam tiga strategi :

  1. Pemenuhan standar atau prinsip Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT), baik secara nasional maupun internasional.
  2. Peningkatan awareness publik dan penyelenggara terkait risiko Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) & Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (TPPT).
  3. Peningkatan koordinasi/kerja sama antar lembaga, secara nasional & internasional.

Dan masih banyak lagi upaya pemerintah dalam melakukan mencegah terjadinya pencucian uang. Lalu, apakah pencegahan pencucian uang ini hanya bisa dilakukan oleh pemerintah saja?

Nah dalam hal ini kita sebagai masyarakat juga dapat ikut andil lho untuk memerangi pencucian uang! Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya:

❌ Tidak menerima dana yang tidak jelas asal-usulnya

🛍️ Tidak membeli aset atau harta yang tidak diketahui asal-usulnya

💰Tidak menyimpan uang orang lain di rekening pribadi

🧒Memberikan informasi dan identitas yang benar ke lembaga jasa keuangan

🥷Tidak terlibat dalam pendanaan terkait terorisme dan kejahatan

Itu dia beberapa penjelasan Ngomu terkait pencucian uang, mulai dari definisi, asal-usul, hingga cara memeranginya. Semoga kedepannya tidak ada lagi kasus-kasus pencucian uang seperti ini terutama di Indonesia ya, karena hal ini sangat merugikan negara.

Nah kalau menurut kamu, ada lagi gak nih tips yang bisa kita lakuin untuk mencegah kasus pencucian uang? Coba share di kolom komentar ya!

Key Takeaways

💲 Pencucian uang adalah tindakan kriminal yang dilakukan untuk menyamarkan uang yang didapatkan oleh para pelaku kriminal dari tindak kejahatan.

☣️Istilah pencucian uang atau money laundering berasal dari para mafia Amerika yang menyembunyikan uang kejahatannya dalam bentuk usaha laundry

⚙️Cara kerja pencucian uang memiliki 3 tahap, tahap placement, layering, dan integration.

💥Pencucian uang berdampak kepada ekonomi suatu negara baik secara langsung maupun tidak langsung.


💡
Suka dengan konten keuangan dari ngomongin uang? Yuk bantu kami untuk meningkatkan literasi keuangan seluruh masyarakat Indonesia dengan share artikel ini ke teman-teman kamu. Kamu juga bisa mendapatkan literasi keuangan yang jauh lebih lengkap lagi melalui instagram, tiktok, twitter dan terutama youtube ngomongin uang.

Jangan lupa untuk nantikan terus konten keuangan dari ngomongin uang, karena ngomongin uang gak ada habisnya!

References

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. 2021. Riset Tipologi Tahun 2021 Berdasarkan Putusan Pengadilan Pencucian Uang Tahun 2020. https://www.ppatk.go.id//backend/assets/images/publikasi/1652402602_.pdf 

CNN Indonesia. 2022, 21 Januari. Kasus Pencucian Uang Rp50 M Benny Tjokro Dilimpahkan ke PN Yogyakarta. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220120193504-12-749309/kasus-pencucian-uang-rp50-m-benny-tjokro-dilimpahkan-ke-pn-yogyakarta 

Tempo. 2020, 4 Juni. Korupsi Jiwasraya Rp16,8 T, Cuci Uang di Kasino dan Beli Pinisi. https://nasional.tempo.co/read/1349500/korupsi-jiwasraya-rp-168-t-cuci-uang-di-kasino-dan-beli-pinisi 

OJK. Pelajari dan Hindari Kejahatan Pencucian Uang. https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/10470

Comments